SEJARAH BERDIRINYA “MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI”

Museum perumusan naskah proklamasi ini sering dikenal dan disebut dengan Munasprok. Museum ini terletak di Jalan Imam Bonjol 1, Menteng, Kota Jakarta. Sebelum menjadi museum perumusan naskah proklamasi, bangunan ini dulunya merupakan tempat tinggal Laksamana Muda Maeda. 

Laksamana Muda Maeda ini merupakan seorang perwira tinggi Angkatan Laut. Ia menjadi seorang perwira pada masa perang pasifik Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda. Laksamana Muda Maeda ini merupakan tokoh penting yang cukup berperan sangat aktif dalam proses kemerdekaan Indonesia. Ia mengizinkan rumahnya digunakan sebagai markas  perumusan naskah proklamasi.

Bagaimana sejarah berdirinya Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini? Yuk, simak ulasan lengkapnya dibawah ini!

Sejarah Berdirinya Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum ini dulunya merupakan bangunan dan kota taman pertama di Indonesia. Bangunan ini dibangun dan didirikan oleh Belanda pada tahun 1910. Sedangkan gedung proklamasi ini dibangun pada tahun 1920 an.

Gedung proklamasi ini mempunyai luas tanah sekitar 3914 meter persegi dan luas bangunan museum ini sekitar 113 meter. Bangunan museum ini dibangun dengan menggunakan arsitektur dan gaya model Eropa dan Belanda. 

Pada saat itu, terjadilah perang pasifik, hingga akhirnya jepang kembali merebut dan mengambil alih Indonesia. Kemudian gedung dan bangunan tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal dan tempat bersembunyi Laksamana Muda Maeda. Pada waktu yang bersamaan, Laksamana Muda Maeda juga menjabat sebagai ketua Penghubung Angkatan Laut dan Darat pada masa kekaisaran Jepang. 

Pada tanggal 16 Agustus 1945, Laksamana Muda Maeda ini memberikan izin kepada panitia penyusun rumahnya untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. Naskah proklamasi tersebut dirancang  dan dibuat oleh Soekarno, Moh. Hatta, Ahmad Subardjo, dan Sayuti Melik sebagai pengetik naskah.

Perkembangan Museum Proklamasi

Pada tanggal 21 Desember  tahun 1931, pemilik gedung dan bangunan ini dulunya bernama Nederlandsch Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij van Pada tahun 1859 dan berubah menjadi PT Asuransi Jiwasraya. Kemudian gedung tersebut diresmikan menjadi Museum Proklamasi yang sudah beberapa kali berubah fungsi.

Sebelum terjadinya perang pasifik, bangunan gedung tersebut dijadikan sebagai tempat Konsulat Jenderal Inggris. Kemudian gedung ini berubah lagi menjadi tempat kediaman rumah Duta besar Kerajaan Inggris. 

Selanjutnya gedung tersebut diambil alih dan diserahkan kembali kepada Departemen Keuangan yang dikelola PT Asuransi Jiwasraya.Hingga pada akhirnya, pada tahun 1961, gedung ini dikontrakkan kedutaan inggris selama kurang lebih 20 tahun. 

Sebenarnya pada tahun 1976, bangsa Indonesia sudah mempunyai niat untuk menjadikan gedung tersebut sebagai gedung museum yang bersejarah. Dan pada tanggal 25 November, diadakan musyawarah dan rapat bersama untuk membahas koordinasi dalam bidang Kesra Departemen dan Pemda DKI Jakarta. 

Kemudian berdasarkan hasil dari rapat ini memutuskan bahwasannya gedung tersebut akan dijadikan sebagai Monumen Sejarah Indonesia. Keputusan tersebut juga diterima serta mendapat dukungan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan pada tanggal 28 Desember 1981 gedung ini secara resmi disahkan sebagai Monumen Sejarah Indonesia.

Dikutip dari peraturan pemerintah yang bernomor 66 tahun 2015, museum merupakan suatu lembaga yang memiliki fungsi untuk mengembangkan, memanfaatkan koleksi, melindungi, serta juga mengkomunikasikan kepada masyarakat luas. Kemudian gedung tersebut diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari PT Asuransi Jiwasraya dengan menggunakan penggantian anggaran dari Direktorat Jenderal Kebudayaan. 

Pada sebagian waktu, lalu gedung tersebut terlebih dahulu dikelola oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta. Kemudian Direktur Permuseuman diberi perintah dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dengan secepatnya merealisir gedung yang bersejarah ini untuk menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Pada tanggal 26 Maret 1987, gedung tersebut diberikan secara resmi kepada badan Direktorat Permuseuman. Serta dijadikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Ruangan Museum Proklamasi

Pada dalam Museum Proklamasi, terdapat sebanyak empat ruangan yaitu sebagai berikut. 

1. Ruang Satu

Ruang yang nomor satu ini menjadi salah satu tempat peristiwa bersejarah yang pertama dalam hal persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Negara Indonesia. Dalam ruang yang pertama ini dijadikan untuk sebagai ruang tamu serta juga ruang kantor oleh Maeda. 

Kemudian selain itu, di bagian ruang yang nomor satu ini juga akan dipaparkan mengenai suasana menjelang proklamasi. Contohnya yaitu seperti bom Hirosima Nagasaki, proses dari pembentukan BPUPKI dan juga PPKI, serta masih banyak lagi. 

2. Ruang Dua

Ruangan yang nomor dua ini adalah ruangan yang menjadi tempat Soekarno dan juga Hatta mengadakan rapat secara bersama di meja bundar dengan beberapa pengurus lain. Beberapa pengurus lain ini contohnya yaitu B.M.Diah. 

Dalam ruang nomor dua ini juga naskah proklamasi yang ditulis asli oleh tangan Soekarno yang mempunyai judul “Proklamasi”. Kemudian selain itu, pada ruangan yang nomor dua ini juga diperlihatkan gambaran sewaktu Soekarno mengumandangkan proklamasi.Yaitu tepatnya dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur.

3. Ruang Tiga

Ruang selanjutnya yang terdapat di dalam Museum Proklamasi yaitu ruang yang nomor tiga. Pada ruang nomor tiga ini terdapat satu buah piano yang menjadi tempat Soekarno dan juga Hatta menandatangani naskah proklamasi negara Indonesia. 

Selain itu, kejadian lain yang terjadi juga di ruang nomor tiga ini yaitu Soekarno membacakan naskah proklamasi tepat di depan rumahnya sendiri. Gambaran mengenai suasana pergolakan ketika sedang mempertahankan kemerdekaan ini juga akan ditampilkan dalam ruangan nomor tiga ini. 

4. Ruang Empat

Ruangan terakhir yang terdapat di dalam Museum Proklamasi yaitu ruangan yang nomor empat. Ruangan nomor empat ini merupakan ruang yang digunakan untuk pameran benda-benda yang dulunya pernah digunakan oleh para tokoh yang tengah hadir ketika perumusan naskah proklamasi. 

Benda-benda yang dulunya pernah digunakan oleh para tokoh yang tengah hadir ketika perumusan naskah proklamasi tersebut contohnya yaitu seperti pakaian, pulpen, sampai dengan jam tangan. Di bagian ruang nomor empat ini juga B.M Diah serta juga Sayuti Melik mengetikkan naskah proklamasi negara Indonesia

Itulah tadi pembahasan mengenai sejarah berdirinya museum perumusan naskah proklamasi. Anda dapat memahami penjelasan diatas supaya Anda lebih tahu mengenai sejarah berdirinya museum perumusan naskah proklamasi.