Mengetahui Sejarah Aksara Pallawa Sebagai Ragam Budaya Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tahukah Anda mengenai aksara pallawa? Atau, mungkin Anda pernah mendengar apa itu aksara pallawa. Aksara pallawa ini biasanya ditulis sebagai Pallawa. Aksara ini merupakan aksara yang berasal dari India bagian selatan yang mempunyai bahasa Sansekerta. Aksara pallawa ini termasuk dari dalam keluarga aksara Brahma.

Kemudian istilah aksara pallawa ini digunakan dan dipakai oleh ahli arkeologi yang berasal dari Belanda. Ahli arkeologi tersebut bernama Nicolaas Johannes Krom. Aksara pallawa ini berasal dari Dinasti Pallava yang berkuasa di India selatan. Dinasti tersebut memeluk agama dan aliran Jainisme.

Kira-kira bagaimana sejarah aksara pallawa ini sebagai ragam budaya nusantara? Yuk, simak informasi lengkapnya dibawah ini!

Sejarah Aksara Pallawa Sebagai Ragam Budaya Nusantara

Jejak peradaban suatu bangsa ini dilihat dan didapatkan dengan menggunakan aksara. Prasasti yupa ini dibuat 400 Masehi di Kalimantan Timur. Selain itu prasasti yupa ini juga digunakan sebagai bukti tertua yang ditulis oleh nusantara. Prasasti ini merupakan .peninggalan bersejarah dari kerajaan Kutai Kartanegara, prasasti tersebut menggunakan aksara yakni aksara pallawa.

7 prasasti yupa ini merupakan satu kesatuan prasasti. Masing-masing prasasti tersebut dipahat menjadi tiang batu yang disebut dengan yupa. Prasasti tersebut ditemukan dalam satu tempat yaitu di Muara kaman, kalimantan timur.

Selain itu, ada beberapa prasasti yang mempunyai aksara lain, yaitu prasasti Ciaruteun yang merupakan peninggalan kerajaan tarumanegara pada abad ke 5. Prasasti kedukan bukit ini juga merupakan peninggalan kerajaan sriwijaya, dan yang terakhir prasasti canggal merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan dinasti sanjaya pada 732 Masehi.

Kedatangan guru agama Hindu dan Budha dari India merupakan langkah bak. Hal ini dikarenakan guru tersebut menjalin kerjasama hubungan perdagangan internasional. Hal ini juga bisa memicu pertukaran antar budaya daerah dan budaya pendukung dan pendatang dengan penduduk lokal.

Aksara pallawa ini juga dikenalkan oleh penyebar agama hindu dan budha. Seiring dengan berkembangnya zaman, perkembangan aksara pallawa ini juga menjadi cikal bakal tradisi tulis menulis yang berasal dari Asia Tenggara. Hal ini terjadi pada saat perkembangan kerajaan hindu budha di Indonesia, aksara ini digunakan dan berkembang menjadi aksara pallawa. Atau dulunya orang jawa menyebutnya dengan sebutan aksara kawi.

Menurut masyarakat Sumatera, istilah kawi ini disebutkan dengan kajian penelitian. Akan tetapi, menurut Ridwan istilah kawi ini melekat sebagai istilah lain dari “Jawa Kuno”. Aksara pasca pallawa ini di sumatera ini belum mempunyai rujukan atau istilah khusus. Aksara kawi ini ditemukan oleh peninggalan kerajaan Melayu dan kerajaan Dharmasraya. Prasasti tersebut disebut dengan prasasti amoghapasa dan Adityawarman.

Kemudian, aksara kawi di daerah sumatera barat ini dituangkan dalam naskah tanjung tanah dan aksara di nisan kuburan. Nisan ini merupakan nisan milik Minye Tujoh yang terletak di Aceh. Ciri aksara kawi yang ada di Sumatera barat ini mempunyai bulatan kecil yang hampir mirip dengan aksara Thai. Sedangkan pada aksara Kawi jawa ini digunakan pada masa abad ke 8 sampai 16 yang ada di Jawa dan Bali.

Pakar paleografi asal belanda ini yang bernama J. G. de Casparis membagi aksara nusantara ini menjadi 5 ragam budaya nusantara berdasarkan massanya. Aksara ini pada abad ke 4 sampai ke 5 mempunyai aksara wiwitan pada 750 sampai 925 Masehi. Sedangkan pada aksara pungkasan keluar pada 925 sampai 1250 Masehi. Dan untuk aksara Majapahit sendiri keluar pada 1476 sampai 1600 an Masehi.

Kemudian aksara tersebut dimodifikasi. Aksara tersebut digunakan untuk menulis naskah bahasa daerah. Aksara ini kemudian di ukir halus diatas daun lontar, kertas daur ulang, kulit binatang, kayu rotan, dan kulit kayu. Aksara tersebut mulai dikenal sebagai manuskrip. Selain itu, beberapa aksara juga masih dilukis dengan menggunakan media keras seperti prasasti

Selanjutnya, pada abad ke 16 ini, dianggap sebagai awal perkembangan dari aksara yang ada di daerah Indonesia. Kemudian aksara jawa kuno ini kemudian membawa perkembangan karakter dari masing-masing daerah. Selain itu, aksara ini juga diakui sebagai milik bersama masyarakat setempat.

Selain berkembanganya aksara kawi, seiring dengan masuknay ajaran agama islam di Indonesia, muncullah aksara arab yang digunakan dengan sebutan pegon, jawi, buri wolio, serang, bilang-bilang, dan melayu bima.

Media yang digunakan untuk menulis aksara tersebut terbuat dari bahan lunak dan bertekstur halus. Selain itu, kertas yang digunakan untuk menulis aksara juga tidak tahan lama. Kertas-kertas tersebut merupakan hasil daur ulang dari kulit pohon kayu dan daun lontar. Selain itu, juga ditemukan beberapa bukti penggunaan bahan kasar, seperti batu, nisan, dan juga bangunan konstruksi.

Naskah-naskah yang menggunakan bahasa arab tersebut berisikan ajaran mengenai agama, adat istiadat, hukum, filsafat, pelestarian lingkungan , politik, sastra, dan juga petunjuk pelaksanaannya.

Kemudian muncullah kedatangan bangsa Belanda atau bangsa kolonial yang mulai memperkenalkan budaya baru. Seperti huruf batu, huruf latin, dan berbagai macam jenis tulisan lainnya.

Aksara Kuno yang Menjadi Saksi Kejayaan Nusantara dan Ragam Budaya Nusantara

Berikut ini beberapa macam aksara kuno yang menjadi saksi sebagai kejayaan nusantara yaitu sebagai berikut :

1. Aksara Pallawa

Aksara yang pertama ini merupakan aksara pertama yang dijuluki sebagai saksi ragam budaya nusantara di Indonesia. Aksara ini ditulis dengan aksara pallawa. Aksara ini berasal dari India bagian selatan yang ditemukan pada abad ke 4 sampai dengan abad ke 9.

Selain itu, aksara ini juga sangat bersejarah sekali terhadap perkembangan aksara yang ada di Indonesia. Pasalnya aksara ini merupakan alat dan akar bagi semua aksara yang berkembang di Indonesia. tidak heran juga jika banyak prasasti kuno pada zaman dahulu menggunakan aksara pallawa.

2.  Aksara Kawi

Selain aksara pallawa, aksara kawi ini juga merupakan saksi perjuangan dan ragam dari budaya nusantara yang ada di Indonesia. Aksara kawi ini merupakan aksara brahma yang digunakan untuk wilayah Asia tenggara. Aksara ini digunakan pada abad ke 8 sampai dengan abad ke 16.

Aksara ini ditujukan untuk orang yang suka menulis bahasa jawa kuno yang berasal dari bahasa sansekerta. Aksara ini juga digunakan sebagai induk dari aksara kuno yang lainnya.

3. Aksara JAwa

Selain beberapa aksara diatas, aksara jawa ini juga digunakan sebagai ragam budaya nusantara dan perjalanan budaya di Indonesia. Aksara jawa ini mempunyai kekerabatan dengan aksara bali. Aksara ini dulunya digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat jawa. Hingga akhirnya, Bangsa kolonial Belanda ini memperkenalkan huruf latin ini pada abad ke 19.

Aksara jawa dan bali ini merupakan perkembangan dari aksara kawi. Aksara ini merupakan salah satu aksara dari turunan bahasa sansekerta dan turunan dari aksara brahmi di Jawa.

Itulah tadi pembahasan mengenai sejarah aksara pallawa sebagai ragam budaya nusantara. Anda dapat mempelajari dan memahami aksara ini untuk Anda jadikan sebagai referensi dan ilmu tambahan.