“76 Tahun Serangan Pearl Harbour: Geopolitik Pasifik Selatan Kini”

8 Desember 1941 (7 Desember waktu Hawaii), pagi hari saat sebagian besar tentara Amerika Serikat di Pangkalan Militer Hawaii masih terlelap dalam mimpi indah, dikejutkan akan serangan kilat dan mendadak yang dilakukan oleh militer Jepang.

Sebab – Akibat: Membangunkan Macan Tidur.

Pasca Perang Dunia Pertama, maka pada kurun 1920-an Jepang menggiatkan industrialisasi di negerinya. Untuk menggerakkan industri maka diperlukanlah bahan-bahan mentah yang tidak Jepang miliki. Kawasan yang memliki kandungan sumber daya alam dan mineral yang berlimpah adalah wilayah Asia Tenggara dalam hal ini adalah Indonesia di dalamnya. Oleh karenanya para teknokrat dan ahli strategi Jepang melakukan perencanaan matang untuk mendukung era industrialisasi ini.

Dalam buku  Richard Deacon: Menyingkap Dinas Rahasia Jepang Kempei Tai dan Ben Anderson: Revoloesi Pemoeda dijelaskan bahwa akhirnya Jepang menjalankan strategi infiltrasi di daerah-daerah yang akan menjadi target operasi ekspansi mereka pada kurun waktu 1930-an. Jepang memahami geopolitik wilayah Asia Tenggara yang masih diduduki oleh negara-negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis dan Spanyol. Tidak hanya Asia Tenggara saja yang menjadi target Jepang, wilayah Pasifik Selatan pun menjadi sasaran infiltrasi mereka.

Berbeda dengan kawasan Asia Tenggara yang dikuasai oleh negara-negara Eropa, maka di Pasifik Selatan ini lebih beragam karena ada Australia dan Amerika Serikat juga yang bermain dan berpengaruh di kawasan tersebut. Keberadaan kekuasaan kolonial di kawasan Pasifik Selatan ini dapat dilihat dalam buku “Politik di Melanesia” dan “Sistem Politik Pasifik Selatan karya Zulkifli Hamid.

Lalu apa yang mendasari Jepang untuk turut pula menguasai wilayah Pasifik Selatan, padahal wilayah ini tidaklah memiliki kandungan mineral semelimpah Asia Tenggara? Jepang menyiapkan wilayah Pasifik Selatan sebagai benteng pertahanan dari pengaruh Amerika Serikat ke depannya.

Otomatis dengan peristiwa penyerangan pangkalan Pearl Harbour di Hawaii ini menarik Amerika Serikat dalam pusaran Perang Dunia ke-2, sebuah perang yang awalnya dianggap oleh Amerika Serikat sebagai perangnya negara-negara Eropa saja. Memang, sejak keberhasilan Jepang menguasai wilayah Pasifik Selatan, satu persatu wilayah di Asia Pasifik jatuh ke dalam pengaruh Jepang. Hanya dalam tempo 2 bulan saja, akhirnya Hindia Belanda mampu dikuasai oleh Jepang.

 

Indonesia dan Pasifik, Kini dan Nanti.

Pembahasan wilayah Pasifik Selatan ini dahulu telah dibahas dan menjadi perhatian para pendiri bangsa kita. G.S.S.J Ratu Langie, Soetardjo Kartohadikoesoemo dan Mohammad Husni Thamrin misalnya dalam pidato-pidatonya di Volksraad (Dewan Rakyat) sejak 1928-1938 yang tak kurang-kurangnya membahas Indonesia dalam kancah geopolitik di Pasifik, bagaimana posisi Indonesia di masa depan menyikapi wilayah Pasifik. Kumpulan pidato ini dibukukan dalam De Pacific: Verzameling (1938). Para pendiri bangsa pun memiliki visi jauh ke depan, bahkan sejak Indonesia-nya sendiri belum lahir.

Kondisi saat ini, Indonesia tak habis-habisnya berusaha digoyang oleh negara-negara Pasifik Selatan yang tergabung dalam Melanesia Spearhead Group (MSG). Belajar dari sejarah kita di masa lalu, maka perlu pemikiran yang komprehensif dalam membina hubungan yang harmonis dengan negara-negara kawasan Pasifik agar tidak lagi mengganggu stabilitas dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagaimana ke depannya? Museum Perumusan Naskah Proklamasi siap ambil bagian dalam penyampaian informasi kesejarahan perjuangan bangsa Indonesia, baik itu melalui museumnya, maupun koleksi-koleksi buku di Perpustakaan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.






Komentar

Berita Lain

Copyright © 2017 Museum Perumusan Naskah Proklamasi