SUKARNI, PENYAMBUNG DUA GENERASI

SUKARNI, PENYAMBUNG DUA GENERASI

 

Jas tua berwarna hitam itu terlihat rapuh, beberapa bagian terlihat jahitannya terlepas, namun tidak membuat kehilangan pesonanya.   

Siapa sangka, pakaian tersebut adalah milik seorang tokoh pemuda yang berandil besar dalam peristiwa perumusan naskah proklamasi, 71 tahun silam. Ialah tokoh yang ikut terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok, ikut pula dalam rapat malam-malam di rumah seorang Laksamana Jepang (yang pro-proklamasi), dan berperan pula dalam mendamaikan kisruh tentang penandatanganan naskah proklamasi.  

Pemuda tersebut bernama Sukarni. Ia lahir pada 14 Juli 1916 di Blitar, Jawa Timur, sebagai anak kelima pasangan Kartodiwirjo - Supiah. Arti namanya pun sederhana, Su artinya lebih dan Karni berarti banyak memperhatikan.

Sukarni kecil tumbuh dalam semangat nasionalisme kebangsaan yang membara, dimana pada tahun-tahun tersebut, Hindia-Belanda memasuki babak baru dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

Ya. Dipicu oleh Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, organisasi-organisasi perjuangan tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Baik kooperatif maupun non-kooperatif. Semarak. Semangat.

Sukarni sendiri kemudian bersekolah di sekolah Mardisiswo yang dipimpin oleh seorang nasionalis, Moh. Anwar. Sekolah ini mempunyai arah pendidikan yang anti penjajah Belanda. Di sekolah Mardisiswo inilah Sukarni memperoleh tempaan semangat nasionalisme.

 

7 Desember 1941. Perang Pasifik pecah. Serangan Jepang, dilatari kebutuhan akan sumber energi dan keterdesakan ekonomi akibat embargo, tiba-tiba saja membongkar fondasi kolonialisme yang ditanamkan oleh bangsa kulit putih di Asia Tenggara. Sekelompok tentara berkulit kuning dan bermata sipit yang awalnya dianggap bangsa rendahan, mampu membuat Belanda bertekuk lutut pada 1942 di Kalijati, Subang. Dimulailah era penjajahan Jepang di Indonesia.

Pada masa tersebut, Sukarni bekerja di kantor berita Antara (Domei). Disamping bekerja, Sukarni mulai giat menyusun kader tenaga muda untuk perjuangan kemerdekaan, salah satunya melalui kursus politik di Gedung Menteng 31, yang merupakan tempat Sukarni bertindak sebagai ketua asrama di sana (1943). Pengalaman politik Sukarni dalam Indonesia Muda, kursus kader politik Soekarno, dan asrama Menteng 31 telah berhasil membentuk Sukarni menjadi seorang pemuda aktivis yang militan dan revolusioner. Semua itu membuat Sukarni memainkan peranan dalam peristiwa sekitar proklamasi.

9 Agustus 1945, Soekarno-Hatta-Radjiman diundang ke Dalat, Vietnam Selatan untuk menemui Jenderal Terauchi, menerima mandat untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak ada satupun dari mereka bertiga yang tahu, beberapa hari sebelumnya negeri Jepang dihajar bom atom oleh Amerika Serikat. Akibat serangan double attack tersebut, Kaisar Hirohito terpaksa mengambil keputusan pahit untuk menyerah tanpa syarat.  

Sedikit sekali orang di Indonesia yang tahu berita tersebut. Sebagian dari mereka adalah para pemuda nekat yang mencuri dengar siaran radio BBC milik Inggris. Didorong oleh emosi meluap-luap, mereka mengungkap apa yang mereka tahu kepada Soekarno-Hatta, sebagai wakil golonga tua. Disanalah pergulatan politik terjadi yang berakhir dengan “pengamanan” keduanya ke Rengasdengklok, dengan dalih menetralisir pengaruh Jepang.

Ahmad Soebardjo yang kebingungan, berusaha mencari tahu kemana keduanya pergi. Ia lantas membujuk seorang pemuda, dan meyakinkannya bahwa proklamasi pasti akan terjadi sesegera mungkin.

Pemuda itu adalah Sukarni. Ya. Lagi lagi Sukarni. Ia yang memegang peran untuk menghubungkan kedua golongan yang bersikeras pada pendiriannya masing-masing. Ia bisa saja, menolak memberi informasi kepada Soebardjo. Tapi ia tahu, bahwa kemerdekaan lebih penting dari apapun. 

Dan terjadilah peristiwa itu. Perumusan naskah proklamasi pada malam 16 Agustus 1945. Semangat pihak-pihak yang terlibat, membuat perdebatan sedikit hangat saat naskah proklamasi akan ditandatangani. Siapa berhak ?

Segera setelah Chaerul Saleh menyampaikan gagasannya agar naskah cukup ditandatangan oleh Soekarno & Hatta, Sukarni memberikan dukungannya. Keteguhan hatinya berhasil mendamaikan perseteruan tersebut.

Besoknya, Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Berdaulat penuh.

Setelah Indonesia merdeka, Sukarni memegang seksi pemerintahan dan urusan luar negeri dalam Barisan Buruh Indonesia. Ia juga, tetap mendarmakan dirinya untuk ibu pertiwi sampai akhir hayat.

Pada 7 Mei 1971, Sukarni Kartodiwirjo meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya Sukarni dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2014.

 

Sukarni memang telah tiada. Namun perjuangan dan gagasan-gagasan beliau tentang Indonesia takkan pernah padam. Seperti jas miliknya, yang tetap “hidup” di stand Museum Perumusan Naskah Proklamasi pada acara Pameran Bersama 10 Museum di Surabaya, Jawa Timur.   

Selain jas Soekarni, di stand tersebut masyarakat dapat melihat koleksi museum berupa koran Asia Raya terbitan 1944, stempel “Pasukan Hantu Maut” serta foto-foto kegiatan yang dilaksanakan museum.

Pameran yang berlangsung di Museum 10 Nopember ini akan berlangsung selama 4 hari, dari 20 Mei hingga 24 Mei 2016, pukul 08.00-16.00 WIB.

 

 

 

 

Link Terkait :





Komentar

Berita Lain

Copyright © 2018 Museum Perumusan Naskah Proklamasi