DIALOG LINTAS SEJARAH BUNG KARNO DI BANDUNG

Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagai lembaga memiliki tugas dan fungsi pokok yaitu melakukan pengumpulan, registrasi dan dokumentasi, pengkajian, perawatan dan pengamanan, penyajian dan publikasi serta layanan edukasi kultural mengenai nilai sejarah, budaya, dan ilmiah tentang sejarah perumusan naskah proklamasi. Sebagai salah satu cara mewujudkan tugas dan fungsinya, maka Museum Perumusan Naskah Proklamasi memiliki kewajiban untuk menyebarkan informasi kepada publik mengenai keberadaan dan arti penting sejarah perjuangan Bangsa Indonesia kepada generasi muda untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme sejak dini. Untuk melaksanakan kegiatan penyebaran informasi tersebut, Museum Perumusan Naskah Proklamasi melakukan kegiatan “Dialog Lintas Sejarah Bung Karno di Bandung” pada tanggal 4-5 Juli 2018.

Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sebagai tokoh Proklamator bersama dengan Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno juga merupakan tokoh pencetus konsep dasar negara Indonesia yang ia namakan Pancasila. Peran Soekarno dikenal pertama kali ketika dia menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi tersebut yang Jawasentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja merupakan tantangan tersendiri. Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan Jong Java cabang Surabaya, Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar). Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, dan bukan dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 2 | P a g e Desember 1930 ia membacakan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Kegiatan “Dialog Lintas Sejarah Bung Karno di Bandung” bertujuan untuk menelusuri sejarah perjuangan Bung Karno di Kota Bandung, dimana ia memulai salah satu usaha untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan. Kegiatan ini diikuti oleh 74 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Sejabodetabek yang begitu antusias mengikuti seluruh rangakain acara yang telah disiapkan oleh panitia. Para peserta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat yang menandai napak tilas Bung Karno di Bandung antara lain Penjara Banceuy, Gedung Indonesia Menggugat (Landraad), Rumah Inggit Garnasih, Sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin, Museum Konperensi Asia Afrika dan Gedung Institut Teknologi Bandung.

Melalui kegiatan ini diharapkan para pelajar dapat meresapi perjuangan Bung Karno dan membantu menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotism yang kuat. Selain itu, nilai-nilai perjuangan tokoh proklamator ini juga diharapkan dapat membantu membentuk kepribadian para generasi penerus bangsa yang berkarakter dan mereflesikan semangat juang membela tanah air ke dalam peran mereka dalam kehidupan nyata pada masa kemerdekaan ini.






Komentar

Berita Lain

Copyright © 2018 Museum Perumusan Naskah Proklamasi