“Akhir Tragis Si Jalak Harupat 20 Desember 1945: R. Oto Iskandar di Nata”

Raden Oto Iskandar di Nata lahir pada 31 Maret 1897, di Desa Bojongsoang, Kecamatan Dayeuhkolot Bandung. Oto yang terlahir dengan nama Oto di Nata merupakan putra ketiga dari delapan orang bersaudara. Ayahnya merupakan seorang bangsawan Sunda bernama Raden Haji Rachmat Adam. Ibunya bernama Nyi Raden Siti Hatijah.

Oto masuk ke sekolah tingkat dasar HIS (Hollandsch Inlandsche School) Bandung. Kemudian, melanjutkan studinya ke Sekolah Guru Bagian Pertama HIK (Hollandsch Inlandcshe Kweekschool) di  Bandung. Di sekolah inilah Oto menambahkan namanya menjadi Oto Iskandar di Nata. Setelah tamat HIK pada tahun 1917, Oto melanjutkan studinya ke Horege Kweekschool (HKS), Sekolah Guru Atas di Purworejo, Jawa Tengah. Oto menyelesaikan pendidikan HKS ini hingga tahun 1920.

Sekolah HIS Bandung
Sekolah Guru Bagian Pertama HIK (Hollandsch Inlandcshe Kweekschool) di Bandung

 

 

 

 

 

Pada masa kanak-kanak Oto senang berolahraga, terutama bermain sepak bola. Kegemaran ini ia lakukan sampai dewasa, karena keaktifannya ini, ia menjadi dewan penasihat sepak bola hingga namanya digunakan sebagai nama stadion di Bandung, yaitu Stadion Si Jalak Harupat. Menginjak dewasa, Oto mulai gemar membaca buku-buku dan surat kabar yang berbau politik seperti surat kabar De Express, asuhan Dr. Douwes Dekker.

Setelah menyelesaikan pendidikannya pada bulan Juli 1920, Oto memulai karirnya sebagai guru di HIS Banjarnegara, Jawa Tengah. Juni 1921 ia dipindah tugaskan ke Bandung, akhirnya mengajar di HIS Volksonderwijs milik perkumpulan Perguruan Rakyat. Di Bandung inilah, Oto mulai aktif dalam pergerakan politik. Ia menjadi Wakil Ketua Budi Utomo cabang Ban­dung.

Pada bulan Agustus 1924, Oto pindah ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di Pekalongan, Oto menjadi Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan, merangkap sebagai Komisaris Hoofdbestuur Budi Utomo. Oto kemudian terpilih menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Pekalongan, mewakili Budi Utomo. Selama di Pekalongan, Oto mengajar di HIS Pekalongan dan kemudian mendirikan Sekolah Kartini yang dibaktikannya bagi anak-anak penduduk di Pekalongan.

Pada bulan Agustus 1928, Oto dipindahkan ke Batavia. Oto mengajar di HIS Muhammadiyah. Oto memasuki organisasi Paguyuban Pasundan dan menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Besar. Dalam kongres Paguyuban Pasundan pada bulan Desember 1929 di Bandung, Oto terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan. Dalam masa jabatan Oto Iskandar di Nata ini, Paguyuban Pasundan mengalami kemajuan pesat di bidang politik, ekono­mi, sosial, pers dan pendidikan.

 

Pada tanggal 15 Juni 1931, Oto menjadi anggota Volksraad sebagai wakil dari Paguyuban Pasundan secara berturut-turut dalam tiga periode yaitu periode kelima (1931-1934), periode keenam (1935-1938), dan periode ketujuh (1938-1942). Sebagai ang­gota Dewan Rakyat, Oto masuk Fraksi Nasional berdasarkan ide Mohammad Husni Thamrin. Oto adalah seorang tokoh “non kooperator” dalam lingkungan “kooperator”. Ia berani mengecam, mengkritik dan membongkar kejelekan serta kecurangan pemerintah kolonial Belanda dengan segala peraturan dan kebijaksanaan yang merugikan bangsa Indonesia. Karena keberaniannya itulah, maka teman seperjuangannya memberi julukan “si Jalak Harupat” (ayam jago yang tidak terkalahkan di medan laga).

Kritikan yang lantang dari Si Jalak Harupat dalam Sidang Volksraad digambarkan oleh pelukis Barli, dok. Sipatahoenan, 05-04-1940.
Oto Iskandar Di Nata dalam sidang Volksraad, (dok. Pandji Poestaka, 19-01-1932)

Pada akhir tahun 1933, Oto meninggalkan profesinya sebagai guru dikarenakan kesibukannya pada karir politik.  Namun demikian, Oto melalui Paguyuban Pasundan terus aktif mendirikan berbagai sekolah, mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah, hingga mendirikan Universitas Pasundan.

Pada tanggal 19 Maret 1939, dibentuk suatu badan dengan nama Konsentrasi Nasional yang didirikan atas Prakarsa Parindra (Partai Indonesia Raya). Pada tanggal 21 Mei 1939 dibentuk sebuah organisasi politik, yaitu GAPI (Gabungan Politik Indonesia), dalam Organisasi nasional tersebut, Oto sebagai salah satu pengurusnya. Pada tanggal 13-14 September 1941, GAPI mengadakan konferensi di Yogyakarta yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin pergerakan, dibentuklah suatu parlemen di luar Volksraad, yaitu Majelis Rakyat Indonesia, dan Oto duduk dalam majelis tersebut mewakili GAPI.

Pada awal pendudukan Jepang di Indonesia, untuk meneruskan perjuangan dan penyelamatan harta kekayaan Pasundan, Oto kemudian mendirikan Badan Usaha Pasundan, yang pimpinannya diserahkan kepada Sanusi Hardjadinata.  Oto sendiri menjadi pimpinan surat kabar Tjahaja. Melalui surat kabar ini Oto secara sembunyi dan sangat hati-hati menyelipkan ide-ide perjuangan dan kegiatan-kegiatan kaum pergerakan.

Pada tahun 1943, Oto diangkat menjadi anggota Jawa Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat Jawa). Dalam kedudukannya itu, Oto bersama kawan-kawan seperjuangannya turut aktif membentuk pasukan tentara PETA (Pembela Tanah Air), khususnya di daerah Jawa Barat. Bahkan Oto memerintahkan kepada putranya sendiri, Sentot Iskandar di Nata, supaya masuk menjadi prajurit Peta. Selanjutnya oleh Jepang, Oto diangkat menjadi Ketua Pengurus Besar Badan Pembantu Prajurit Peta dan Heiho. Di bidang pemerintahan, Oto ditunjuk sebagai anggota Chou Sangi In (Badan Perwakilan Rakyat Tertinggi).

Oto bersama Jawa Hokokai (Majalah Djawa baroe, 1-4-1944, h 11)

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah pada sekutu. Sejak itu, di Indonesia terjadi suatu masa Vacuum of Power (kekosongan kekuasaan). Situasi ini dijadikan kesempatan oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, diselenggarakan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam sidang ini, Oto mengusulkan agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dipilih secara aklamasi sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Setelah Undang-undang Dasar RI disahkan dan Presiden beserta wakilnya terpilih, maka dalam rangka mengisi aparat pemerintah pusat, Oto diangkat menjadi Menteri Negara RI yang pertama. Di samping itu, Oto juga memimpin Badan Pembantu Prajurit dan turut aktif membangun BKR (Badan Keamanan Rakyat). Oto juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Oto merupakan orang pertama yang menyerukan kata “Indonesia Merdeka”, karena Oto memiliki keyakinan bahwa Indonesia pasti merdeka. Seruan tersebut kemudian diteriakkan dengan suara lantang olehnya di tangga gedung Jawa Hokokai.

Pada awal masa mempertahankan kemerdekaan, banyak kesalahpahaman yang terjadi antara pemuda dengan para pemimpin pemerintahan dari tuduhan berkolaborasi dengan Jepang hingga tuduhan sebagai mata-mata NICA. Hal ini menyebabkan terjadinya penculikan terhadap para pemimpin pemerintahan. Oto termasuk salah satu tokoh yang juga diculik oleh para pemuda tersebut. Oto meninggal pada tanggal 20 Desember 1945 di Pantai Ketapang, Mauk Tangerang.

Cerita Oto – Anaknya bertanya kepada Bung Karno

Pada waktu Oto Iskandar di Nata gugur,  isterinya  baru mengandung, sedang anaknya yang terkecil (nomor 10) baru berumur 2 1/2 tahun. Ketika Bung Karno datang ke Tasikmalaya tahun 1946, anaknya tersebut berkata kepada Bung Karno, “Hormat Bung Karno, Bapak saya mana?” Bung Karno sangat terharu lalu memeluk anak kecil tersebut. Semua yang hadir juga ikut terharu, bahkan ada yang mengucurkan air mata. Kini Oto Iskandar di Nata telah tiada, namun cita-citanya tetap hidup pada setiap orang Indonesia. (potongan cerita bergambar Tokoh Oto Iskandar Di Nata terbitan Museum Perumusan Naskah Proklamasi)

Kenangan Bung Karno Tentang Oto

Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Bintang Mahaputera I dan berdasarkan surat Keputusan Presiden RI Nomor 088/TK/1973 tanggal 6  Nopember  1973, Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional.